banner 468x60

Singapura & Konspirasi Global Dibalik Tewasnya David

0 6
banner_helm_GM_480x60
banner lazada

Berita9.com - Seperti adegan pembuka kisah spionase saja. David Hartarto Widjaya ( 21 th ), akrab dipanggil Ming-Ming, mahasiswa Indonesia semester akhir jurusan elektro di Nanyang Technology University ( NTU ) telungkup bersimbah darah di pelataran kampusnya ( 2/3/2009 ). Wakil Indonesia dalam Olimpiade Matematika Internasional 2005 ini dikabarkan tewas bunuh diri ( atau dibunuh ? ) dengan menyayat tangannya lalu melompat dari lantai 4 gedung kampus setelah menikam dosen pembimbingnya karena stress, beasiswa sarjana dari ASEAN dihentikan. Anehnya, dosen pembimbingnya, Prof. Chan Kap Luk juga raib, tak diketahui keberadaannya. Mencekam dan misterius.

Ayah David menemukan kejanggalan pada jasad putranya. Ada bekas luka ( suntikan ? ) di leher David yang ditutup plester. Kata pihak berwenang Singapura, luka itu memar karena terbentur beton. Aneh, mestinya dagunya ikut hancur, tapi nyatanya dagu David utuh, kata sang ayah. Pihak pemerintah Singapura juga seperti menutup diri dari penyelidikan pihak Indonesia, termasuk keinginan mengautopsi ulang dengan tim forensik kita. Teman2 David mengajak ribuan pengguna dunia maya di Youtube, Facebook, Kusnet, blog dan milis mendesak pemerintah Indonesia, Singapura dan NTU menginvestigasi kasus David secara transparan.

Awalnya, mereka hanya menulis melalui blog masing2, mengekpos komentar tentang David. Tapi kini sudah bermunculan grup2 di situs2 jejaring sosial yang mendesak penuntasan kasus David. Salah satu grup di Facebook,”In Memoriam of David Hartanto Widjaya. We love you Ming-ming”, mengajak semua orang yang peduli untuk mengungkapkan informasi apa saja yang dimiliki terkait kematian David untuk membantu pengungkapan kasus itu. Sudah ribuan orang bergabung dalam grup yang dikelola kakak David, William Hartanto, dan 2 rekan David, Jennifer Arif dan Audrey Juliana dari Wahington, AS, serta Anthony Lie. Mereka khawatir pemerintah Singapura sengaja mengulur-ulur kasus ini. Mereka juga mengajak komunitas dunia maya meneruskan pesan ke KBRI di Singapura dan pada presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui situs web presidensby.info. Tampaknya desakan di dunia maya ini muncul karena pemerintah Indonesia terlihat pasrah begitu saja menyerahkan investigasi David pada pihak kepolisian Singapura.

Jasad David kini sudah jadi abu kremasi. Seorang blogger, Iwan Piliang menonton kasus David di Channel Asia. Ia terheran, mengapa jenazah David begitu cepat dikremasi ? Padahal hasil autopsy belum keluar dan kematiannya bermasalah.”Saya curiga dan berkesimpulan ini sudah merusak nama baik bangsa. Seorang anak pintar dari Indonesia tewas bunuh diri setelah menusuk profesornya. Rasa ingin tahu itu membawa saya datang ke rumah orang tuanya di Jakarta Utara,” kata Iwan. Iwan kemudian didaulat para pembaca blognya menjadi Tim Verifikasi Kematian David. Konsistensi Iwan menguak kebenaran penyebab kematian David sempat membuat negeri jiran itu khawatir. Iwan sempat diinterogasi selama 2 jam di Bandara Chiang Mai mengenai alasan kedatangannya ke Singapura.

Kejanggalan lain yang ditemukan Iwan ; pernyataan kampus. “Mengapa mereka begitu cepat mengatakan David bunuh diri ? Menusuk professor lalu bunuh diri ? Di blog wartawan dan fotografer “Straits Time” dan grup Facebook, ada fotografer yang memuat foto2 janggal itu. Di Singapura, pemerintahnya represif, media tidak boleh memuat foto2 itu. Akan tetapi, oleh mereka dimuat di blog2 mereka,” kata Iwan.

Tim yang diketuai Iwan Piliang menyimpulkan dari rekonstruksi tim, bukti2 tertulis dan hasil autopsi yang diterima pihak keluarga ; tidak ada luka sayatan di lengan David. Ditemukan 36 luka, 14 di antaranya luka karena pisau, umumnya terletak di bagian tangan. Sisanya luka memar, termasuk di bagian leher dan luka dalam. Hasil autopsi ini menguatkan dugaan kalau David diserang dan dibunuh. Sebagian pihak menyebut, hasil autopsi itu tidak sah karena dikirim langsung ke keluarga David, tidak melalui KBRI sehingga tidak ada cap KBRI-nya. Selain itu, autopsi juga diserahkan terlebih dahulu ke pihak kampus. Kejanggalan prosedur ini mengundang tanda tanya.

Kejanggalan lain muncul dari hasil rekonstruksi kematian David yang dilakukan tim verifikasi, keluarga dan media dari Indonesia. Rekonstruksi menunjukkan posisi pisau dan bercak darah justru ditemukan di sekitar tempat Prof.Chan. Bukan di tempat David menuju jembatan tempat ia diduga terjun bunuh diri.

“Dilihat dari bercak darah, David diduga melakukan pembelaan diri,”ucap Iwan. Melalui foto2 seorang wartawan koran Singapura “Strait Times”, rekonstruksi dilakukan dengan didampingi pihak intelejen KBRI. Pihak intelejen juga menduga kuat, David 99 % dibunuh, dengan bukti kejanggalan2 ; pihak keluarga tak boleh bertemu dengan presiden NTU dan professor Chan. Termasuk melarang pertemuan keluarga David dengan media massa Singapura.

Dugaan David dibunuh juga diperkuat dengan 2 kematian lain yang terkait erat dengan prof.Chan. Asisten peneliti asal Cina, Zhou Zheng dilaporkan gantung diri ( digantung ? ) di apartemen kampus tsb pada 6/3/2009 malam. Lalu, Dr.Hu Kunlun, peneliti muda asal Cina yang baru setahun bekerja di NTU sebagai periset di Divisi Kontrol dan Instrumentasi EEE, tewas tertabrak mobil.

Zhou dan Hu tewas misterius menyusul kematian David

Zhou Zheng berasal dari Hubei, Cina, lulus Teknik Elektro NTU bulan Juli 2008. NTU mengatakan, Zhou bekerja pada sebuah perusahaan setelah lulus dan diberi pelatihan di luar negeri. Dia kemudian bekerja di NTU pada 2/3/2009, pada hari kematian David. Ada yang menduga, Zhou dilenyapkan karena dia merupakan saksi kunci tewasnya David. Zhou dilaporkan tewas gantung diri. Namun, tidak ada saksi mata di apartemennya yang melihat ia tergantung di balkon. Mungkin saja jenazah Zhou sudah diturunkan sebelum polisi datang. Atau mungkin juga Zhou tidak bunuh diri, melainkan dibunuh. Kebetulan lain, Zhou adalah staf di laboratorium S2-B3a-06, tempat David menyelesaikan tugas akhirnya di bawah bimbingan prof.Chan. Chan, David dan Zhou sama2 berkecimpung di laboratorium S2-B3a-06, School of Electrical & Electronics Engineering ( EEE ), NTU.

Tewasnya David dan Zhou dalam waktu kurang dari seminggu, menimbulkan kecurigaan Gabriel Sai ( 23 th ), pemuda kelahiran Ipoh, Malaysia yang juga sedang belajar di EEE. Posting terbaru di blog-nya menyebut David dan Zhou punya satu kesamaan ; sedang aktif di laboratorium Infocomm yang sama di EEE, NTU. Zhou asisten dosen di lab S2-B3a-06. David menjalani tugas akhir di lab tsb. Hal lain yang menguatkan kecurigaan Sai adalah pengakuan teman2 David saat2 terakhir dia tewas, yang tidak mendukung tuduhan bahwa David sedang merencanakan pembunuhan atau sedang depresi. Beberapa jam menjelang kejadian, David diketahui masih asyik bermain game on line bersama teman dekatnya. Sesuatu hal yang mustahil dilakukan oleh seseorang yang mengalami depresi, apalagi sedang menyusun rencana pembunuhan.

“Kami belum mendapat informasi seperti itu dari kepolisian di sini. Kami hanya tahu soal Zhou dari pemberitaan terbuka saja bahwa dia adalah salah seorang asisten di NTU,”ujar Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI di Singapura, Yayan G.H.Mulyana pada 8/3/2009. Yayan belum tahu soal benar tidaknya rumor tentang Zhou sebagai supervisor proyek David, meski keduanya dari program yang sama.

Spekulasi menyebutkan Zhou tewas karena dia saksi kunci kematian David. Spekulasi itu ditulis Asalim, mantan asisten dosen pada Information Research Laboratorium ( ISRL ) tempat Zhou bertugas dan David menyelesaikan proyek kamera 3 D sebagai tugas akhirnya. Komentar warga Medan di blog Gabriel Sai menyebutkan tanggal 2 Maret 2009 itu adalah hari pertama Zhou bertugas di lab S2-B3a-06, hari tewasnya David. Berdasarkan pengalaman Asalim, pada hari pertama bertugas di ISRL, seorang asisten dosen harus mengkonfirmasi dirinya pada 3 orang yang menggunakan ISRL, sekaligus mengambil kunci pintu ruangan laboratorium teknik elektro dan elektronika dari professor yang memimpin bagian Teknik Informatika.

Kantor kepala bagian Teknik Informatika berada di area S1-B2b, tak jauh dari kantor Prof.Chan. Asalim menduga Zhou yang sedang mengambil kunci, secara kebetulan mendengar atau melihat kejadian yang berbuntut tewasnya David. Karena menjadi saksi itulah, Zhou dilenyapkan.

Setelah David, Zhou tewas, korban berikutnya adalah Dr.Hu Kunlun yang tewas tertabrak mobil saat berangkat kerja ke kampus NTU. Hu sedang menyeberang jalan di Pioneer Road North menuju halte bus di seberang jalan. Bus 179 tujuan kampus NTU tiba di halte. Melihat kondisi jalan yang aman, Hu bergegas menyeberangi jalan untuk naik ke bus itu. Saat itu sebuah mobil menabraknya. Kepala Hu menghantam kaca depan mobil dan tubuhnya terlempar ke atap lalu jatuh ke aspal. Darah berceceran di jalan. Hu sempat dilarikan ke rumah sakit National University Hospital, namun nyawanya tak tertolong. Hu dinyatakan tewas pukul 11.20 waktu setempat. Hu adalah peneliti muda yang baru setahun bekerja di NTU sebagai periset di Divisi Kontrol dan Instrumentasi EEE.

Menurut saksi mata, pengemudi mobil adalah seorang pria berusia 30-an tahun. Dia bersama seorang penumpang perempuan turun dari mobil untuk melihat kondisi Hu. Berbagai situs berita dan blog memuat peristiwa tsb. Hampir semua media cetak, on line, dan blog di Cina serentak memberitakan kematian Hu. Tidak sedikit komunitas dunia yang mengaitkan kematian Hu dengan kematian David dan Zhou. Pihak NTU terlihat enggan berkomentar dan hanya menegaskan bahwa ketiga kematian itu sama sekali tak berkaitan.

Hartanto Widjaya, ayahanda David, menilai kematian Dr.Hu akibat kecelakaan lalu lintas sangat aneh. Menurutnya, sulit dipercaya kasus kematian menimpa 3 orang dari fakultas yang sama dalam kurun waktu kurang dari sebulan. “Padahal di Singapura itu disiplinnya sangat tinggi. Jarang sekali ada orang tertabrak. Apalagi, katanya dia tertabrak di trotoar. Anak ini jurusannya sama. Ini sangat aneh,” tuturnya.

Kejanggalan lainnya terkuak setelah seorang staf di NTU mengaku mendengar teriakan David,”They want to kill me, the want to kill me…they …” Staf wanita itu tak mengira sebuah teriakan minta tolong. Ia menyangka itu candaan. Ia menceritakan hal itu pada ayah David di kampus NTU, Senin ( 2/3/2009 ) sore.

Sampai saat ini, penyebab pasti kematian David, Zhou belum diketahui. Kepolisian Singapura menutup rapat perkembangan penyelidikannya sampai2 keluarga David meminta kepolisian Indonesia ikut melakukan penyelidikan. Pada 30/3/2009, Hartanto telah menyampaikan laporan ke Mabes Polri. Intinya, dia melaporkan bahwa anaknya bukan bunuh diri, melainkan dibunuh.”Anak saya dibilang nusuk, padahal anak saya yang meninggal dunia,”katanya. Namun tanggapan diperoleh sangat mengecewakan. Abubakar Nataprawira, jubir polisi hanya mengatakan,”Seharusnya laporannya di Singapura karena kasusnya di sana.” Alasan dia, Indonesia tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Singapura, sehingga Polri tidak mungkin ikut campur.

Media Singapura tidak terlalu gencar memberitakan kasus kematian lain yang menyertainya. Sebaliknya, media Singapura terlihat membentuk image/ kesan bahwa kematian David adalah bunuh diri. Padahal, rasanya sulit memisahkan 3 kematian dalam jangka waktu kurang dari sebulan, yang melibatkan korban dari universitas yang sama, dan bekerja di laboratorium yang sama. Adakah konspirasi dari rentetan kematian itu ? Apa dasar konspirasi itu ?

Diketahui, David sedang menyelesaikan Final Year Project no.A3026-081 berjudul “Multiview Acquisition for Person Adaptive 3 D Display”. Penelitian David ini sangat bermanfaat untuk diaplikasikan di berbagai sector, dari mulai dunia hiburan hingga pertahanan. Riset David berhasil menemukan komponen yang bisa menayangkan obyek 3 dimensi yang bisa tayang di udara atau semacam hologram 3 dimensi yang bisa hidup di udara. Kemampuan membuat gambar visual 3 dimensi yang bisa tayang ke udara itu bisa dimanfaatkan untuk teknologi intelijen, di mana sosok orang digital bisa diprogram masuk ke ruang tertentu di pantau melalui kamera CCTV, gerakannya dipandu pemindai gerak ( motion capture ).

Gambar visual itu dapat mengirim data, suara, layaknya manusia sesungguhnya yang sedang kita perintah bekerja. Hasil penelitian ini juga bisa berguna bagi televisi 3 dimensi masa depan yang dapat ditonton kasat mata, tanpa kaca mata khusus. Jika benar itu yang ditemukan David, implementasinya bisa macam2. Kita bisa saja mengganti resepsionis di kantor dengan sosok 3 dimensi, bukan manusia utuh.

Penelitian David yang gemar game virtual itu mirip riset yang pernah dilakukan Lucas Art & Co. Perusahaan ini pernah melakukan riset tentang teknologi 3 dimensi ( 3 D ) visual untuk kepentingan iklan, yang mampu tampil di udara. Itu artinya, software animasi 3 D, sederhananya, yang semula hanya bisa membuat model dan tayang di computer atau hanya direkam ke format film dan video, lalu bisa ditayangkan di udara.

Menurut ayahnya, penelitian David sudah mencapai 90 % final saat diserahkan pada prof.Chan. Dia memang menghilang selama 2 minggu untuk menyelesaikan riset itu. Kemudian flash disk-nya diserahkan pada prof.Chan sebelum David menemui ajal dengan cara mengenaskan. Kini, seluruh bahan hasil penelitian itu berada di tangan polisi dan prof.Chan. Sebab, laptop David juga disita polisi Singapura.

Pada 8 April 2009, ayah, ibu dan kakak David berkunjung ke Singapura untuk kedua kalinya. Tujuannya menemui Su Guaning, presiden NTU. Dalam kunjungan itu, mereka bertemu dengan lebih dari 30 teman2 David. Namun keluarga David tak bisa menemui Dr.Su, alasannya jadwal Dr.Su sudah padat dengan sejumlah janji yang telah diatur sebelumnya. NTU beralasan, mereka tak bisa mengakomodasi permintaan pertemuan itu karena terbilang mendadak.

Menlu RI, Hassan Wirajuda mengatakan,”Kita masih menunggu hasil penyelidikan polisi Singapura. Kita tidak ikut campur. Itu penyelidikan internal Singapura. Apabila dari hasil penyeldikan sudah ada kejelasan, pasti kita akan diberitahu oleh kepolisian Singapura.”

Meski tanpa dukungan serius dari pemerintah Indonesia, keluarga almarhum David, tidak putus asa. Berbagai upaya dilakukan, termasuk menyewa detektif swasta, Sashi Nathan, dengan tariff 120 ribu dollar Singapura ( sekitar 840 juta rupiah ). Dengan menyebarkan permohonan bantuan melalui rekening milik kakak David, William, keluarga David pun berjuang untuk bisa menyewa penyidik swasta hebat untuk membuka tabir kasus kematian David.

Perjuangan keluarga David patut diacungi jempol. Harus diingat bahwa buah perjuangan ini bukan saja mengungkap fakta kematian David di kampus Nanyang, NTU Singapura tetapi juga bermanfaat lebih luas, termasuk meningkatkan harga diri bangsa dan mengukuhkan keberadaan bangsa Indonesia agar tidak diremehkan.

Sekarang, setelah perjuangan keluarga dan simpatisan mulai menampakkan tanda2 keberhasilan, baru Departemen Luar Negeri ( Deplu ) angkat bicara. Juru bicara Deplu, Teuku Faizasyah mengatakan, akan terus memberi pendampingan. Keluarga David juga menyewa penasehat hukum sendiri. Tidak terlihat peran Deplu secara lebih aktif dalam penanganan kasus ini. Menurut Teuku Faizasyah, fungsi perlindungan bagi WNI yang dilakukan KBRI Singapura hanya sebatas bidang kekonsuleran, antara lain aktif memantau perkembangan penyelidikan dan meminta penegak hukum di Singapura agar menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

12 blogger dan 30 anggota INV membantu keluarga David meyibak tabir konspirasi NTU dengan gigih.

Berbeda dengan sikap pemerintah yang memilih menyerahkan kasus ini kepada Singapura, apapun hasilnya, justru perjuangan tak kenal lelah tetap kukuh terlihat dari keluarga David didampingi Christovita Wiloto dan Iwan Piliang. Merekalah yang aktif mendatangi pejabat KBRI Singapura secara berturut-turut pada tanggal 8, 9 dan 10 April 2009.

Iwan Piliang mengatakan tim verifikasi independen yang dipimpinnya terdiri 12 orang blogger dan 30 orang anggota komunitas INV ( Intelligent Network Video ). Mereka akan menggunakan jalur2 informal untuk melakukan verifikasi, lantaran tidak ada dukungan KBRI di Singapura dan Kedubes Singapura di Jakarta.”Sebab kalau formal ditolak mentah2 oleh pemerintah Singapura,” ujar Iwan.

Hasil tekanan media massa dan dunia maya telah menggoyahkan keyakinan publik Singapura bahwa David bunuh diri setelah menyerang prof.Chan Kap Luk. Ada kemungkinan Pengadilan Koroner Singapura menetapkan kasus tsb open verdict. Artinya, keputusan hakim memerintahkan Kepolisian Koroner Singapura untuk melanjutkkan penyelidikan, bermakna kecurigaan bahwa David tidak bunuh diri melainkan dibunuh semakin terbuka.

Pengadilan Koroner Singapura menggelar siding First Mention ( mendengar keterangan awal penyidik ) di Gedung Sub Ordinate Court, Singapura pada Rabu ( 22/4/2009 ). Agenda sidang tsb mendengarkan hasil penyelidikan polisi setempat atas kontroversi kematian David. Dalam sidang itu, kepolisian Singapura memaparkan bahwa kasus David adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh kecelakaan, bunuh diri atau penyebab tidak alami.

”Secara resmi, pengadilan akan memutuskan apakah kasus David sebagai kasus koroner,” kata Yayan G.H.Mulyana, Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI di Singapura. Sidang ini baru tahap quite mention atau mendengar hasil penyelidikan polisi. Dari situ akan ditentukan apakah masalah itu nanti bisa dilanjutkan dengan sidang hearing atau tidak. Sidang hearing akan dilakukan beberapa bulan mendatang setelah hakim koroner menyatakan secara resmi bahwa kasus David adalah kasus koroner

Dalam masa beberapa bulan tsb, kepolisian bisa secara internal menyampaikan laporannya kepada hakim. Hakim koroner bisa mengembalikan laporan itu kepada kepolisian untuk dilengkapi jika dinilai masih ada hal2 yang kurang. Nanti waktu sidang terbuka, laporan kepolisian akan dipaparkan sebagai bahan rujukan hakim dan pengacara, dan akan ada open verdict, ada keputusan hakim apakah dia bunuh diri atau kecelakaan, ungkap Yayan.

Sementara itu, detektif keluarga David, Shasi Nathan ( detektif top untuk kasus kriminal di Singapura ) sudah mulai bekerja mengumpulkan bukti2 kematian David, yang akan jadi bahan pegangan keluarga dalam sidang praperadilan kasus David. Majelis hakim pengadilan koroner dalam sidang first mention menyatakan akan menggelar sidang Coroner Inquiry yang secara marathon diadakan pada 20-26 Mei.

Ada 3 alternatif keputusan dalam pengadilan koroner yaitu bunuh diri, kecelakaan dan terbuka untuk ditindaklanjuti ke pengadilan kriminal. Ketua Tim Verifikasi Kasus David, Iwan Piliang mengatakan,”Kami yakin bahwa David 100 % dibunuh berdasarkan keterangan beberapa saksi dan hasil autopsi.

Setelah desakan teman2 David dan pers ( baru menyusul Deplu dan KBRI ) terus dilakukan penyidikan lebih lanjut atas kasus ini. Terkait digelarnya siding Pengadilan Koroner, Christovita Wiloto dari tim advokasi kasus David menyatakan, yang terpenting adalah kesaksian Prof.Chan yang mengaku sebagai korban dan Dr.Su Guaning/ presiden NTU yang memberikan keterangan pertama kali. Penjelasan secara runut atas kejadian ini pada keterangan pers pertama kali merupakan keterangan penting di pengadilan.

Prof.Chan adalah satu dari 16 saksi yang rencananya akan dihadirkan. Selain Chan, ada ahli forensik yang memeriksa mayat David, ahli darah ( dari The Health Sciences Authority ) yang meneliti darah siapa di mana,professor Chang Chong Wah yang ruang kerjanya persis di sebelah ruang kerja prof.Chan. Prof.Chong konon pernah bertanya pada Herdian ( Achong ), sahabat David yang sejurusan dengannya,” David mengerjakan Final Year Project untuk kaliber mahasiswa Ph.D, mengapa harus mati ?”. Tim verifikasi berharap prof.Chong dapat memberi kesaksiannya di persidangan.

Kedutaan Indonesia di Singapura memberi jaminan perlindungan kepada mahasiswa untuk bersaksi walaupun sekecil apapun bentuk kesaksian itu. Masyarakat maupun media yang mengetahui kasus ini juga dapat memberi kesaksian tanpa harus merasa takut karena dilindungi oleh negara.”David sudah meninggal, tapi jika kasus ini tidak dituntaskan maka kemungkinan nyawa orang Indonesia di luar negeri tidak akan pernah dihargai,”ujar Christovita.

Christovita menjelaskan, Pengadilan Koroner ini adalah sistim hukum Inggris yang dianut Singapura, sangat berbeda dengan yang berlaku di Indonesia. Setiap kematian aneh, harus melalui pengadilan koroner ini dulu sebelum diputuskan bunuh diri, kecelakaan atau sesuatu yang harus diselidiki lebih lanjut oleh kepolisian Singapura. Jika keputusan Pengadilan Koroner menunjukkan bahwa kematian David tidak wajar, setelah diselidiki lebih lanjut akan digelar pengadilan di mana negara akan menuntut tersangka pembunuhan. Pengadilan Koroner tidak sama dengan gelar perkara atau praperadilan di Indonesia.

Sementara itu, Wakil Kadiv Humas Polri Brigadir Jenderal Sulistyo Ishak menyatakan pihaknya tetap menghargai proses hukum yang berjalan di Singapura dan berharap proses hukum yang akan dilaksanakan di Singapura tanggal 20-26 Mei mendatang dapat memberi informasi terbuka untuk umum. Polri memiliki keterbatasan untuk terlibat karena kasusnya terjadi di luar Indonesia. Akan tetapi, polisi secara universal akan mengangkat kebenaran materil dari olah TKP dan fakta yang didapat serta keterangan saksi. Polri tidak akan tinggal diam dalam masalah ini.

Setelah tewasnya David ( 2/3/2009 ), dalam sepekan terakhir ada 4 kasus yang dilaporkan bunuh diri di Singapura. Semuanya berkaitan dengan lembaga pendidikan. Pada 5 Maret 2009 dini hari, seorang mahasiswa Universitas Nasional Singapura asal Amerika Serikat, Scott Jared Monat ( 21 ) ditemukan tewas di kamar asrama universitas Prince George. Menurut informasi, Monat mengalami sesak nafas setelah menenggak minuman beralkohol bersama seorang temannya.

Pada 6 Maret 2009, seorang mahasiswa asal Cina, Wu Wenjie ( 23 ) juga dinyatakan bunuh diri. Tubuhnya ditemukan menggantung pada sebuah pohon. Menurut Straits Times, Wu bunuh diri setelah mengetahui dirinya terjangkit virus HIV. Mengapa begitu banyak kasus bunuh diri yang dilaporkan dan berkaitan erat dengan pendidikan di Singapura ? Ada apa dengan pendidikan di Singapura ? ( mungkinkah di sana ada sindikat mafia industri/ militer yang merampas hasil penelitian mahasiswa pintar di Singapura ? Mahasiswa di Singapura, dalam pandangan mereka, bak ayam petelor. Negara kecil itu terpoles dengan rancang kota mutakhir sehingga mengundang minat para bibit unggul di seluruh dunia. Setelah berhasil menelurkan skripsi yang bernilai ekonomis/ strategis tinggi, telur itu diambil dan ayamnya disembelih/ dikatakan mati karena flu burung/ bunuh diri/ HIV dsb ?_nurray ).

Yang mengherankan, walau telah terjadi kasus kematian David dan sederet kasus bunuh diri lainnya, jumlah peminat beasiswa ke universitas di Singapura, termasuk NTU, tidak berkurang ? Dilaporkan, sedikitnya 8.500 mahasiswa asing melanjutkan studinya di NTU. Menteri pendidikan Singapura menyatakan, dari 49.000 pelajar di universitas Singapura, 20 % -nya adalah pelajar asing yang rata2 warga Asia.

Masyarakat Indonesia, khususnya simpatisan mengharapkan fakta di balik misteri kematian David cepat terungkap. Pemerintah Indonesia di Singapura khususnya diharapkan dapat menunjukkan sikap tegasnya. Bisakah pihak Indonesia lebih gigih memperjuangkan keadilan bagi warga negaranya yang teraniaya di luar negeri ? Akankah mendiang David dan keluarganya memperoleh keadilan dalam waktu dekat ini ? Let’s see.. ( Nurray stlh nonton “Metro Realitas”, Metro TV, 22/4/2009, baca PR, 1-5/5/2009 )

Komen Nurray :

Saya duga kasus tewasnya David ini terkait dengan skripsi yang tengah ia kerjakan bersama dosen pembimbingnya. Yaitu, penelitian 8 kamera yang bisa menampilkan citra 3 dimensi dalam posisi pengamat ( 3 D display ). Bukan isu baru, tapi penemuan teknologi ini cukup penting dan bisa mendatangkan banyak uang bagi pemilik hak ciptanya

Saya teringat betapa rakusnya, zionis mengeruk uang. Dari buku “Deadly Mist” karya Jerry D.Gray, pensiunan US Air Force ; ternyata MSG, Aspartam, flu burung, SARS, AIDS dan penyakit mematikan lainnya adalah hasil rekayasa Amerika, agar mereka mendapat uang dari penjualan vaksin atau obatnya ). Mungkinkah temuan David itu bisa digunakan militer AS, Israel dan sekutu Eropanya untuk melacak musuhnya, pejuang muslim yang mereka labeli teroris ? Atau ada oknum/ pelaku yang menjadi kaya dengan menjual temuan David ini ?

Sejarah yang akan menjawabnya nanti, atau seperti misteri2 lain dalam rentang waktu hidup kita. Tetap terkubur dalam misteri. Selanjutnya masyarakat kembali “amnesia”, seperti persoalan2 lain yang berhubungan dengan kekuasaan, yang berpotensi menyengsarakan dirinya. Memori kolektif memudar. Silent majority. Hanya menjadi buih.

Cendikiawan muslim, Nurcholis Madjid, juga wafat ketika berobat ke Singapura. Apakah sesederhana itu ? Banyak pihak tak suka Indonesia menjadi besar dan berdaulat penuh. Wakil Indonesia dalam Olimpiade Robot beberapa waktu lalu yang bernama muslim, dicoret ( ditolak visanya masuk AS ). Begitu takutkah Barat akan keunggulan Indonesia dan generasi muslimnya ?

Tidak hanya Barat, kemarin sore dalam “Dialog Today” Metro TV, yang mendatangkan wakil partai Demokrat, PKS, PDIP dan Golkar ( 4 besar peraih suara pileg 2009 ) dan pengamat politik, Eep Saefulloh, ternyata masih ada wakil yang rikuh ( atau gengsi ? ) berkoalisi dengan partai yang ‘agak muslim’ karena dia dari partai nasionalis. Kenapa dia yang muslim alergi muslim ? Merasa beda ( lebih baik ) dari muslim yang jelas identitas muslimnya ? Mindset Barat sudah meresap dalam alam bawah sadarnya ( I’m better, I’m the best … me too ). Hmm… kerjaan kita masih banyak. Pekerjaan raksasa, kawan…

Jeruk dan bunga untuk mendiang David di Kedubes Singapura.

Selain disokong dunia maya, aksi nyata turun ke jalan juga dilakukan. Teranyar, 15 pemerhati kasus David menuntut agar investigasi kematian David dilakukan secara jujur. Mereka menyampaikan petisi di Kedubes Singapura di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa ( 5/5/2009 ) dengan membawa jeruk, karangan bunga dan foto David. Berharap diterima langsung oleh Dubes Singapura, pihak kedubes hanya bersedia menerima seorang wakil pengunjuk rasa, yaitu Audy Wuisang. Jonathan, Sekretaris Politik Kedubes Singapura menerima petisi dan menolak jeruk dan bunga.

Isi petisi ;

menuntut pemerintah Singapura memberi jaminan keamanan dan perlindungan pada mahasiswa Indonesia yang kuliah di Singapura,
melindungi semua saksi dan mahasiswa Indonesia di Nanyang Technological University ( NTU ) dari tekanan dan perbuatan semena-mena,
menghentikan tuduhan David membunuh Kap Luk lalu bunuh diri, karena masih dalam penyelidikan,
meminta kasus kematian David diusut tuntas dengan melakukan investigasi yang jujur,
menghimbau sidang pengadilan koroner 20-26 Mei 2009 di Singapura dilaksanakan dengan obyektif,
dibentuk tim investigasi yang bersifat independen melibatkan Indonesia dan Singapura dalam mengusut kasus kematian David.

Saksi “they want to kill me” raib, polisi Singapura berkutat hanya satu sisi.

Tim Verifikasi Independen ( TVI ) kasus David Hartanto, menyayangkan profesionalitas polisi Singapura, yang mengaku sebagai salah satu polisi terbaik di dunia, tapi berkutat hanya pada satu sisi fakta, ujar Iwan Piliang, Selasa ( 2/6/2009 ). David dituduh menusuk dosen pembimbing tugas akhirnya, Profesor Chan Kap Luk, lalu melukai diri sendiri dan bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan kaca setinggi 15 meter di kampusnya.

Menurut Iwan, fakta yang dibawa penyidik ke pengadilan Koroner didominasi penggalan ketika David berada di jembatan kaca yang menghubungkan lantai 4 jurusan Electrical Electronic Engineering dengan gedung Techno Park. Pada saat itu David sudah bersimbah darah dan mata kakinya terluka akibat dipukul di tangga darurat. Dari 21 saksi yang dihadirkan, hampir semua memberatkan.

Iwan menyatakan, sulit mencari saksi mata kematian David dalam waktu yang sangat sempit. Terutama saksi yang melihat penggalan keadaan yang terjadi di ruang Kap Luk. Zhou Zheng yang diduga tahu apa yang terjadi saat itu, dikabarkan menggantung diri di apartemennya, namun jasadnya sudah berada di lantai ketika polisi datang. Apa dan siapa yang menyaksikan David di tangga darurat dari lantai B1 ke lantai B2 belum juga ditemukan. Sosok Nany, petugas kebersihan yang dikabarkan pernah mendengar David berteriak they want to kill me juga tidak ditemukan. Menurut Iwan, kondisi tidak menguntungkan ini membuat keluarga David memutuskan untuk menunda persidangan hingga 17-23 Juni 2009.

“Kami berharap dengan penundaan ini dapat lebih siap menghadirkan saksi sekaligus mendorong kepolisian Singapura membawa data2 lain, termasuk melakukan digital forensik terhadap seluruh bahan foto dan video yang menjadi barang bukti,” tambah Iwan. Terkait dengan itu, TVI menghimbau agar kepolisian Singapura mengembalikan laptop, flashdisk dan HP David kepada keluarga serta mempersilakan Tim Digital Forensik Indonesia melakukan penggandaan.

“Kami juga berharap agar lembaga formal, Interpol, Bareskrim dan Deplu, melakukan upaya konkret terhadap kasus ini agar langgam ketidakadilan dalam proses hukum tidak terjadi, sehingga nama baik David yang merupakan aset bangsa dapat dipulihkan, sekaligus membangun citra positif bangsa Indonesia,” ujar Iwan. ( PR, 3/6/2009 ).

Indonesia di mata bangsa-bangsa lain di dunia.

Beberapa waktu lalu, seorang nelayan Indonesia kesasar ke negara Asia Selatan yang tengah berkonflik. Sebelum kapal ditembak, warga kita itu tergopoh-gopoh mengambil bendera merah putih lalu mengibar-ngibarkan sebisanya ke arah kapal patroli tsb. Ajaib. Kapal nelayan itu selamat, tak jadi di tembak, dan dibiarkan kembali ke wilayah laut kita.

Kang JJ dari “Ride for Piece” di “Kick Andy” pernah cerita dirinya pernah dirampok oleh pemuda di wilayah konflik juga ( mungkin Afganistan ). Tapi begitu Kang JJ bilang ia dari Indonesia, si pemuda tak jadi melukai, bahkan mengembalikan sebagian uang tokoh biker Jabar itu untuk bekal ia meneruskan perjalanannya.

Tahun 2003 ketika Baghdad jatuh ke tangan pasukan AS, ( Indonesia belum menerima pemerintahan Irak yang baru ), seorang veteran Perang Teluk I yang menjadi staf kedubes Indonesia di Irak, dengan penuh keberanian dan martabat menjaga kompleks kedutaan kita. Ketika pasukan AS ingin menggeledah kedutaan kita mencari militan Irak yang mungkin bersembunyi, staf kedubes asal Irak itu dengan lantang menolak mereka,”Ini wilayah teritori Indonesia, anda hanya diperkenankan untuk bertamu, tidak untuk mengeledah kompleks ini. Silakan pergi.”

Si letnan melongo, masih ada orang Irak seberani ini hanya dengan secarik surat dari Pak Dahlan, dubes Indonesia untuk Irak, yang saat itu sudah kembali ke Jakarta. Itupun hanya fotokopian. Meski gerbang dan bangunan sekitar banyak dihujani tembakan malam sebelumnya, staf Irak tak ciut menghadapi tentara2 AS bersenjata lengkap. Si tentara akhirnya pamit, tak jadi masuk ( mungkin terkesima dengan keyakinan dan harga diri sang staf ). Sang staf dibantu anaknya, dengan setia dan gagah berani, terus menjaga kedutaan kita di sana ( meski dengan gaji agak tersendat, karena faktor keamanan ).

Anda tersentuh dengan 4 peristiwa di atas ? Anda bangga menjadi bagian dari Indonesia ? Kalau bangsa asing respek pada kita, mestinya kita respek pada jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.

Boikot ( wisata ) Singapura demi David Hartanto

Dari sekian rasa respek bangsa asing terhadap bangsa Indonesia, ada perkecualian di Malaysia dan Singapura. Malaysia dengan para TKI yang disiksa para majikan. Singapura dengan kasus tewasnya David Hartanto, yang saya dengar terakhir, dihentikan penyidikannya. Diputuskan oleh pengadilan Singapura dengan saksi2 busuknya, bahwa David tewas bunuh diri setelah membacok dosen pembimbingnya. Semua saksi dan hasil penyidikan dari pihak independen Indonesia, tidak digubris. Pengacara top yang telah dibayar mahal keluarga David, mendadak berubah haluan, mendukung kebohongan pihak universitas NTU. ( Gemesnya, masih ada sekolah Indonesia dalam promosi menjaring peserta didik tahun ajaran ini, bekerja sama dengan NTU. Di mana empatinya, ya ? ).

Profesor Chan Kap Luk, yang sudah mengantongi beberapa paten ( mungkin sebagian nyolong dari mahasiswanya ), ternyata adalah salah satu staf ahli Departemen Pertahanan Singapura. Feeling saya tak salah, kasus David ada kaitannya dengan kepentingan militer Barat. Singapura bisa copot dari wilayah Malaysia dulu, bisa jadi karena intervensi Barat, seperti halnya copotnya Timor Timur dari NKRI karena intervensi PBB ( badan yang dibentuk untuk melayani kepentingan Barat ).

Singapura bisa leluasa membeli pasir Indonesia ( meski sudah dilarang pemerintah ) untuk memperluas wilayah darat ( dalam jangka panjang bisa mencaplok wilayah laut kita juga ), menampung koruptor2 yang melarikan uang milik rakyat Indonesia, menghambat perjanjian ekstradisi dengan negeri kita, merampas hak cipta intelektual David dan memberi stigma buruk kepadanya, dan terus lenggang kangkung. Tak tersentuh. Ada backing Amerika/ Barat/ zionis di belakang negeri mungil itu, rupanya.

Bisakah kita bersatu memainkan kartu pariwisata Singapura ? Banyak orang Indonesia menjadi konsumen produk belanja dan pelayanan kesehatan di Singapura. Turis Indonesia banyak wara-wiri di Orchard Road dan kawasan wisata di sana. Bisakah turis2 Indonesia, kita kerahkan untuk memboikot Singapura ? Untuk menekan pemerintah negeri itu agar serius mengungkap sebab kematian David sebenarnya. Mengiringi upaya diplomatik yang tengah diupayakan keluarga David Hartanto. Saya dengar wapres terpilih Budiono akan membantu.

Bantu keluarga David Hartanto dan Antasari Azhar dengan people power.

Jika Deplu tak bisa berbuat banyak, Mabes Polri sibuk melindungi salah satu jenderalnya dari pengusutan KPK ( dengan menyeret para ketua KPK dengan kasus2 rekayasa ), lalu SBY sedang galau dintimidasi oleh militan muslim ( atau oknum2 Polri yang menekan SBY supaya pro Polri/ si buaya daripada pro prestasi KPK/ sang cecak & pembebasan Antasari ) dan seabrek urusan negara, mungkin kita perlu kembali ke people power.

Boikot Singapura sampai David memperoleh keadilan ! Apa kita juga perlu mendemo/ kepung Mabes Polri agar Susno Duadji tidak mengada-ngada menahan Antasari ( akibat dugaan keterkaitan Susno di Bank Century ) ? Demo/ kepung Pengadilan Negeri Jakarta yang mengabulkan perpanjangan penahanan Antasari yang ke 3 ( 3/8/2009 ) ? Demo/ kepung Komisi III DPR yang bernafsu mempreteli kewenangan dan citra KPK. Demo/ kepung Kejaksaan Agung ( Jasman Pandjaitan cs ) yang “main pingpong” dengan DPR dan Polri membonsai KPK dan nama baik Antasari ? Is it the time ?

Kredibilitas 3 lembaga itu bisa rusak kalau terus mempertahankan orang2 busuk di dalamnya dan tak ada anggota dewan/polisi/jaksa yang berani menegak kebenaran dan nurani. Negara ini perlu diselamatkan. Kalau ( instansi ) negara tak becus, kita beri batas waktu. Tak ada respon yang memadai ? Kita terpaksa bergerak. Keluarga David dan Antasari mungkin takkan bertahan lebih lama, kalau tidak kita dukung secara maksimal, dengan pikiran dan tenaga kita. Demi harga diri bangsa, saatnya maju lebih tegas, kawan !

(BS/NURAY/**ROSESMERAH)

Category: Konspirasi
banner_helm_GM_480x60
author
No Response

Leave a reply "Singapura & Konspirasi Global Dibalik Tewasnya David"