JOMBANG, -Minat anak-anak dan guru belajar tari tradisi, cukup besar. Sebaliknya, minat remaja belajar tari masih sangat minim. Mereka belajar menari dengan pelbagai alasan, antaranya untuk mengisi waktu luang, memupuk bakat atau talenta dan terapi kecakapan sekaligus keberanian.
Sejauh ini yang sangat menggembirakan makin banyak anak-anak usia TK, SD dan guru yang belajar tari tradisi, sementara dari kalangan remaja dan pela jar SMP maupun SMA masih minim sekali, kata Pelatih Tari Sanggar Tari Lung Ayu Jombang Dian Sukarno (39) ketika dihubungi pada hari Senin (5/12), di Jombang.
Dikatakan, tumbuhnya kegairahan guru belajar tari tradisi, tidak terlepas dari penerapan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran) seni budaya di sekolah dasar. Sehingga dengan dengan demikian, guru mau tak mau harus belajar menari tarian tradisi untuk ditransformasikan kepada anak -anak didiknya.
Beberapa sekolah yang sudah menerapkan KTSP seni budaya, bahkan kerap meminta pelatih tari sanggar untuk mengajari menari tradisi untuk anak-anak, a katanya.
Dian mengatakan, kalangan guru sekolah dasar banyak pula yang berinisiatif sendiri untuk belajar tari tradisi di sanggar-sanggar tari . Kini, di wilayah Jombang terdapat kurang lebih delapan sanggar tari.
Alhamdulillah dari total 330 orang yang tercatat di sanggar kami, sebanyak 150 orang tergolong siswa aktif belajar menari dan berlatih tari, katanya.
Perkembangan lain yang mencerahkan, demikian kata Dian, sekarang ini sekolah-sekolah di daerah pinggiran telah pula menjadikan seni budaya, khususnya tari sebagai bagian dari pelajaran sekolah.
Kami sering mendapat permintaan mengajar tari di sekolah-sekolah di daerah pinggiran, Curahmalang, Kabuh maupun Sumobito, katanya.
Ia mengatakan, belajar tari tradisi jauh berbeda dengan tari modern. Perbedaan mendasar antara tarian tardisi dengan tarian modern, ter dapat pada nilai-nilai filosifisnya. Belajar tari tradisi secara langsung maupun tidak langsung mengajari anak-anak untuk gotong-royong, punya jiwa sosial dan empati.
Tarian modern hanya mengajarkan motif gerak saja dan sangat jauh berbeda dengan tarian Jawa, misalnya, yang mengenal filsafat rasa, aluasan atau kasaran, katanya.
Menyoal event-event lomba maupun festival tari anak-anak di wilayah Jombang, demikian kata Dian, masih sangat minim. Pasalnya, pemerintah belum banyak menyentuh ruang ekspresi da n apresiasi seni tari tradisi.
Masih sangat jarang ada lomba maupun festival tari anak-anak yang diselenggarakan oleh pemerintah, apalagi sekarang ini kebudayaan dimasukkan lagi ke pendidikan. Jadi, tergantung otonomi daerahn ya, karena kebudayaan masih ada yang melekat pada Disporabudpar , katanya.
Untuk menyiasati minimnya event lomba maupun festival tari, sanggar tari melakukan anjangsana antar sekolah dasar yang menjadi binaan sanggar tari. Artinya, berproses bersama untuk melahirkan tarian untuk dipentaskan bersama.
Kami juga punya jaringan antar sanggar tari Jombang dengan sanggar tari Mojokerto yang berinisiatif untuk mengakan lomba atau festival tari antar sanggar . Ya, ibaratnya sanggar merangkap event organizer, kata Dian.
Incoming search terms:
- foto orang menari
- gambar tarian anak sd
- Orang menari
